Kala itu, satu mentari tetap merajai sekolah mungil yang sangat hangat. Semua siswa sibuk dengan sosialisasi di sekolah baru mereka. Terutama pemilihan kegiatan ekskul di sekolah tersebut. Kali ini, disusun beberapa ekskul yang memang wajib untuk diikuti oleh semua siswa baru kelas X. Meskipun begitu, tetap saja tak semua siswa mematuhinya.
Di satu ruang kelas yang mulai dimasuki para junior, terlihat beberapa siswa yang masih ragu tuk melangkah, termasuk aku , ya kegiatan yang awalnya ku pandang terlalu sibuk dan membosankan, akhirnya ku pilih dengan ikhlas. Senior menyapa dengan ramah, namun telah ku lihat sosok - sosok hebat yang ada pada pribadi mereka. 'waw jadi junior lagi nih' bisikan batinku .
Setelah masuk dalam kelas yang memulai sejarah itu, aku duduk pada bangku pojok depan dengan teman yang sedari SMP telah ku kenal, dan yang lebih membuatku tertunduk lagi ku lihat satu sosok dipojok belakang , siapa dia ? Dia adalah sahabat yang sempat hilang di Sekolah Menengah Pertama ku . Kaget ? Ya ! sangat kaget , tapi jika aku yang mundur, telah dapat ku perkirakan betapa puasnya dia .
Perlahan ku terus melangkah, menelan sedikit demi sedikit keputusan yang telah ku tetapkan. Ekskul Paskibra, untuk mengiringi hari - hari puti abuku . Tak sedikit hal yang ku dapat , meski memang benar yang sejak awal ku perkirakan, namun selebihnya menakjubkan. Hal-hal baru yang takkan terganti dengan hal apapun, karna memang berbeda. Sahabat yang sekian lama pergi akhirnya kembali, senior yang tak pernah ku bayangkan, sahabat baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan dan satu kekeluargaan yang begitu mengesankan.
Waktu tak hanya diam ditempat, dia berlalu dengan membawa beberapa keping hal indah, semakin terasa arti dari kasih sayang dan satu rasa betapa sakitnya kehilangan. Aku ? diam, tak berbisik sedikitpun, hanya mencoba merelakan, jika kepergian adalah hal terbaik untuk mereka.
Semua mulai berubah, terlihat beberapa sosok yang terasa semakin dekat, terbesit keinginan tuk selalu begini tanpa ada lagi yang harus pergi.
Telah banyak yang kakak-kakak bekali pada kami , junior yang mungkin sangat sering menyakiti, membuat emosi dan pantas di maki . Sering ku berbincang dengan mereka, sahabat yang sama-sama menjadi adik dari para kakak ,
"Apa yang bisa kita kasih buat mereka ya ?"
"Entahlah, aku juga gak tau"
"Hmm, terlalu banyak yang udah mereka kasih buat kita sih"
"Iya, yaa"
Ingin rasanya membuat mereka tersenyum bangga , menangis haru karena suatu hal yang indah yang aku dan sahabat-sahabatku perbuat. Namun, apa bisa ? Untuk ucapkan terimakasih dan maaf saja pun aku masih canggung tuk lakukannya. Karna malu dengan salah yang terlalu banyak. Sudah dapat dipastikan, bila ku coba ucap semua itu, yang ada hanya kan memamerkan air mata yang kupunya ^^
Kakak - kakakku, sadarku betapa banyak hal yang belum ku tau , ku rasa aku pun belum mampu menjadi seperti yang kalian mau , meski buku harianku belum penuh terisi, namun sepertinya sikap burukku yang mendahuli menghiasi memori . Tak ku pungkiri, kesal memang sempat ku rasa , namun hal itu , tak mampu mencegahku tuk ucapkan terimakasih pada kalian yang luar biasa :)
It's Me
Tentang Apa yang Saya Lihat, Dengar, Rasa dan Imajinasikan~
Jumat, 25 Maret 2011
Jumat, 18 Maret 2011
ikhlas
ikhlaskan aku saat rembulan hanya menghangatkannya
iklhaskan aku saat mentari hanya menyapanya
ikhlaskan aku saat hujan hanya hapus lukanya
ikhlaskan aku saat embun hanya sejukan paginya
ikhlaskan aku saat DIA tersenyum bukan untukku tapi untuknya :)
iklhaskan aku saat mentari hanya menyapanya
ikhlaskan aku saat hujan hanya hapus lukanya
ikhlaskan aku saat embun hanya sejukan paginya
ikhlaskan aku saat DIA tersenyum bukan untukku tapi untuknya :)
Selasa, 15 Maret 2011
KEMBALILAH
Sejak awal kita bersama , membuat lingkaran, berpegangan tangan erat meski tak saling kenal dekat , namun saling jaga. Perlahan - lahan satu diantara kita mulai merasa lelah untuk berpegangan , dan menemukan pegangan lain yang lebih menjanjikan. Apa yang kita lakukan ? HANYA melepasnya ! Dengan fikiran "mungkin ini kebahagiaan untuknya" ! berulang kali , satu demi satu jarak kita semakin dekat , karena orang yg berpegangannya pun tak lagi banyak . Semakin sedikit , menipis , ragu , bimbang , hanya itu yang ada dalam benak masing-masing. Apa harus berlanjut kah ? Lepaskan satu demi satu gandengan tangan indah, yang ditutupi oleh senyuman namun sebenarnya tinggalkan lara??
Diri ini terdiam sendiri, tertnduk malu, menyesal akan keputusan membiarkan semuanya pergi ! Kalian , tatap aku ! Dengar bisikkanku ! Aku rindu !! Aku rindu dengan sapaan hangat kalian ! Aku rindu akan sentuhan lembut kalian ! Aku rindu akan canda yang menggemakan tawa kalian ! Aku rindu kita menangis dan akhirnya tersenyum ! Aku rindu kita mengelu namun akhirnya tersenyum ! Aku rindu kita berontak namun akhirnya tenang ! Aku rindu saat kita bersama ! tak sembarang bersama !
Mudahkah kalian lupakan itu semua ? bagiku , sepahit apapun hal yang ku alami bersama kalian , itu indah , itu berkesan .
KEMBALILAH kawan ! :)
Diri ini terdiam sendiri, tertnduk malu, menyesal akan keputusan membiarkan semuanya pergi ! Kalian , tatap aku ! Dengar bisikkanku ! Aku rindu !! Aku rindu dengan sapaan hangat kalian ! Aku rindu akan sentuhan lembut kalian ! Aku rindu akan canda yang menggemakan tawa kalian ! Aku rindu kita menangis dan akhirnya tersenyum ! Aku rindu kita mengelu namun akhirnya tersenyum ! Aku rindu kita berontak namun akhirnya tenang ! Aku rindu saat kita bersama ! tak sembarang bersama !
Mudahkah kalian lupakan itu semua ? bagiku , sepahit apapun hal yang ku alami bersama kalian , itu indah , itu berkesan .
KEMBALILAH kawan ! :)
Mentariku
Kala ku buka perlahan dua bola mata yang masih berat..
Aku tersenyum , membaca doa permulaan hari diiringi harap-harap hati...
Ku pandangi cermin dan ku tatap wajahku..
Akankah hari ini kau merubah senyumku wahai kasih?
Ku tak tau jawaban pastinya , namun tak henti aku berharap..
Menatapmu dibalik malu , itu saja sudah cukup tuk membuat kekal senyumku,.
Tak pernah ku berharap lebih,
Maafkan aku wahai kasih ,
Mengambil cahayamu tanpa kau tau...
Mentariku :)
Aku tersenyum , membaca doa permulaan hari diiringi harap-harap hati...
Ku pandangi cermin dan ku tatap wajahku..
Akankah hari ini kau merubah senyumku wahai kasih?
Ku tak tau jawaban pastinya , namun tak henti aku berharap..
Menatapmu dibalik malu , itu saja sudah cukup tuk membuat kekal senyumku,.
Tak pernah ku berharap lebih,
Maafkan aku wahai kasih ,
Mengambil cahayamu tanpa kau tau...
Mentariku :)
Senin, 14 Maret 2011
Untukmu
Kau mampu buatku tersenyum..
Saat ku tertunduk lesu..
Kau mampu buatku tertawa...
Saat hatiku terkuasai amarah..
Kau mampu buatku tenang
Saat gelisah merajai
Kau mampu buatku terdiam..
Saat argumenku salah..
Kau beri hal sederhana..
Dan merubahnya menjadi indah...
Hanya alunan nada yang bisa ku berikan
Untaian kata yang sanggup ku sembahkan
Tuk tunjukan pada dunia,..
Betapa bangganya ku mempunyai sosok kakak sepertimu :)
Saat ku tertunduk lesu..
Kau mampu buatku tertawa...
Saat hatiku terkuasai amarah..
Kau mampu buatku tenang
Saat gelisah merajai
Kau mampu buatku terdiam..
Saat argumenku salah..
Kau beri hal sederhana..
Dan merubahnya menjadi indah...
Hanya alunan nada yang bisa ku berikan
Untaian kata yang sanggup ku sembahkan
Tuk tunjukan pada dunia,..
Betapa bangganya ku mempunyai sosok kakak sepertimu :)
Minggu, 13 Maret 2011
Hujan
Hari itu, hujan turun dengan derasnya, mengiringi kepergian seorang ibu yang mengorbankan jiwanya untuk keselamatan jiwa baru yang ia sayangi. Dua rasa sekaligus dirasakan oleh keluarga Fajri. Keluarga yang sederhana, rukun, tentram dan bahagia.
"Maaf Pak ! Kami tidak bisa menyelamatkan istri anda." Kata-kata dokter kala itu sangat menggelegar dalam hati Pak Fajri.
"Anak saya, bagaimana dengan keadaan anak saya dokter?" lanjut Pak Fajri setelah terdiam sesaat.
"Alhamdulillah anak bapak perempuan pak, cantik sekali." jawab dokter dengan tenang.
Rasa yang tak karuan dirasakan pula oleh Nindi, anak pertama Pak Fajri yang harus kehilangan ibu yang sangat dicintainya, namun ia pun bahagia atas adik barunya.
"De, teteh janji teteh mau jadi kakak yang baik buat ade." begitu ucap Nindi di hadapan bayi mungil yang diberi nama Nadya.
Hari terus berganti, tak terasa Nadya tumbuh menjadi gadis mungil yang sangat cantik dan ceria layaknya gadis cilik lainnya. Setiap pagi, Nindi dan Nadya pergi sekolah bersama, Nindi terlebih dahulu mengantarkan adiknya yang bersekolah di SD Harapan baru pergi ke sekolahnya d SMA Bina. Nadya sangat beruntung memiliki kakak seperti Nindi, yang penuh kasih sayang dan lembut. Nindi dengan sabar mengantar jemput Nadya apabila Nadya ada les menari balet.
Suatu hari "Teteh, Nadya punya mama gak sih? temen-temen yang lain lesnya bareng mama, tapi Nadya kok sama teteh?"
Mendengar hal tersebut Nindi bingung harus menjawab apa, dengan terbata-bata ia pun menjawab
"Mama Nadya udah ada di sisi Allah sayang, jadi Nadya gak bisa liat mama."
"Mama gak sayang Nadya ya teh? Mama gak mau ketemu Nadya?"
"Eh,eh, bukan gitu de, mama itu sayang kok sama Nadya, nanti kalau Nadya udah besar Nadya akan tau mama kemana. Gak boleh bilang gitu lagi ya adenya teteh yang cantik."
Nadya pun akhirnya mengiyakan perkataan kakaknya, gadis cilik yang satu ini benar benar menyayangi kakaknya karena ibunya telah tiada dan ayahnya pun sibuk bekerja dia hanya memiliki kakaknya untuk berbagi cerita.
Suatu hari saat Nadya akan pergi les, hujan turun cukup deras, entah mengapa Nadya suka sekali hujan karena menurutnya hujan bisa menyembunyikan airmatanya bila ia menangis, hujan juga bisa menghilangkan rasa kesepiannya. Namun setiap kali hujan turun, Nindi selalu menjadi sangat khawatir pada Nadya, sampai-sampai tak mengizinkan adiknya itu lepas dari pengelihatannya.
"Teteh takut hujan?" Bibir mungil Nadya dengan polosnya menanyakan hal itu.
"Eng..eng..enggak kok ! Ada apa?" jawab Nindi
"Habis tiap kali ujan teteh jadi aneh." timbal Nadya
"Udah, jangan banyak tanya, sana masuk kamar jangan ujan-ujanan!" sambil menarik tangan Nadya ke arah kamar.
Di kamar, Nadya memikirkan keanehan sikap kakaknya, ia menulis dalam buku hariannya
Buku harianku, teteh ko aneh ya, tiap ujan takut , tiap ujan marah, kenapa ya? Nadya bingung nih, Nadya gak mau teteh sedih. Aneh ! :(
Beberapa hari kemudian, Pak Fajri pulang dari luar kota, Nadya dan Nindi sangat senang menyambutnya. Tujuan Pak Fajri pulang adalah untuk menyaksikan Nadya yang akan tampil di kontes balet se-Indonesia. Ia sadar, bahwa ia sudah terlalu sibuk hingga tak punya banyak waktu untuk menamani anaknya itu.
Sebulan sebelum kontes, Nadya sudah sangat sibuk berlatih balet. Nindi agak khawatir akan kesehatan Nadya, karena bila sudah latihan, adiknya itu tak ingin diganggu, bahkan hanya untuk makan sekalipun.
"Teteh, bulan depan kan teteh ulang tahun, teteh mau hadiah apa dari Nadya?"
Nindi terdiam, dia terharu adik sekecil ini sangat perhatian padanya, dia lebih dewasa untuk anak seumurannya kali ini.
"Teteh mau, Nadya jadi adenya teteh yang paliiiiiinnnnggg hebat di kontes nanti. Teteh mau foto bareng Nadya waktu Nadya bawa piala besar juara pertama kontes itu, Nadya bisa?"
"Tentu tetehku, nanti Nadya kasih pialanya buat teteh yaa ! Nadya janji Nadya mau jadi juara buat teteh sama ayah." jawab Nadya penuh semangat.
Pak Fajri mendengar percakapan antara anak-anaknya tersebut, beliau bangga memiliki putri-putri yang hebat seperti mereka, andai saja istrinya masih ada, pasti setiap hari ia akan tersenyum bahagia melihat kedua putrianya itu pikirnya.
Satu minggu sebelum kontes, Nadya jatuh sakit, ia dirawat di Rumah Sakit Cahaya. Nindi dan Pak Fajri sangat khawatir, tak ingin merasakan sakitnya kehilangan untuk kedua kalinya.
"Nadya, bangun cantik, ini teteh !" Ucap Nindi sambil menatap wajah mungil adiknya yang biasanya dihiasi dengan senyum ceria, kini menjadi pucat dan tak berdaya.
"Ini ayah sayang, tuh teteh sedih liat Nadya tidur terus kaya gini, cepet bangun ya anak ayah!" Lanjut Pak Fajri sambil mengusap kepala putrinya.
Kekhawatiran tersebut bertambah, saat dokter mengatakan bahwa Nadya ternyata kanker otak. Nindi, dalam doanya yang tulus tak henti berharap agar adiknya diberi kesembuhan. Tak sengaja ia temukan buku harian adiknya.
Rabu
Buku harian, Nadya pusing, kenapa ya kepala Nadya rasanya sakiiittt banget?
Kamis
Sebentar lagi teh Nindi ulang taun, Nadya mau ngasih kado yang spesial buat teteh, sakitnya udah ya Allah
Jum'at
Kalau emang Nadya harus sakit, gak apa-apa kok tapi nanti ya, Nadya mau kasih hadiah dulu buat teteh
Nindi menangis sejadi-jadinya membaca buku harian adiknya, ia sangat merasa bersalah, mengapa ia tak sadar bahwa belakangan ini adiknya itu menahan rasa sakit sendirian. Beberapa menit setelah itu, Nadya mulai siuman, ia langsung meminta ayah dan tetehnya untuk membawanya pulang, ia dengan yakinnya mengatakan bahwa ia akan menang pada kontes menari balet nanti. Setelah meminta izin pada dokter, akhirnya hari itu juga Nadya di bawa pulang ke rumah.
Keesokkan harinya Nadya langsung berlati balet lagi, tak terlihat rasa sakit sedikitpun dari wajahnya, Nindi sering menahan tangis dihadapan adiknya itu. Ia tidak mau adiknya jatuh sakit lagi dan pergi meninggalkannya.
Namun, di hati kecilnya, ia tau bahwa adiknya itu gadis yang hebat, gadis cilik yang sangat kuat.
Hari dimana kontes itu berlangsung akhirnta tiba, Nadya sangat semangat. Dengan kostum warna pink dan rambut dikepang, ia terlihat sangan cantik
"Teteh, Nadya deg-degan nih, haduh yang nontonnya banyak banget, peserta yang lain juga cantik-cantik banget teteh, bajunya bagus-bagus lagi."
"Hahaha, adik teteh lucu deh kalau lagi tegang. Udah, Nadya pasti bisa lebih bagus dari mereka, teteh yakin itu! Semangat ya de !" jawab Nindi dengan sedikit menggoda.
"Iya, ayah juga yakin Nadya bisa, semangat ya anak ayah!" lanjut Pak Fajri.
Tiba giliran Nadya untuk tampil, dan ternyata benar, ia bisa tampil dengan sangat menakjubkan. Nindi, Pak Fajri langsung memberikan tepuk tangan saat Nadya selesai menari. Juri pun ikut memberikan tepuk tangan.
Saat hasil kontes akan diumumkan, Nadya mulai merasa kepalanya sakit, ia hanya diam. Tak berkata apapun, Nindi menyadarinya, ia tak ingin Nadya panik, ia hanya memegang tangan Nadya dan berdoa dalam hatinya. Pengumumanpun telah tiba, Nadya mendapatkan juara kedua dan juara faforit, Nadya senang, dengan tersenyum ia naik ke panggung untuk mengambil piala. Nindi dan Pak Fajri sangat bangga padanya.
Seturunnya dari panggung, Nadya jatuh pinsan, ia langsung dibawa ke rumah sakit lagi. Nindi benar-benar cemas kali ini, ia tau bahwa adiknya telah mengeluarkan seluruh tenaganya kali ini. Namun, tak henti ia berdoa untuk kekuatan adiknya.
Beberapa hari dirawat dirumah sakit, keadaanNadya pun membaik. Ia mulai siuman dan tersenyum ceria lagi. Kekhawatiran Nindi dan Pak Fajri pun mulai reda.
"Teteh, ayah, Nadya di rumah sakit lagi? Gimana pialanya?"
"Iya Nak, kamu pinsan lagi waktu udah ngambil piala" jawab ayahnya.
"Nadya, jangan tinggalin teteh ya, teteh gak mau Nadya jauh sama teteh, cepet sembuh ya sayang" Ucap Nindi sambil menangis.
"Kok teteh nangis, tenang aja teh, Nadya janji gak akan ninggalin teteh kok ! Teteh jangan nangis lagi ya."
Tepat di hari ulang tahun Nindi, hujan turun dengan deras, namun kali ini, hujan tak lagi membawa duka yang mendalam, justru membawa suka cita. Kehadiran teman-teman dan saudara di syukuran ulang tahunnya membuat Nindi sangat bahagia, ditambah lagi dengan kesembuhan Nadya yang menjadi kado paling spesial untuk Nindi.
"Alhamdulillah, Nadya bisa ngasih kado ini buat teteh, maaf ya gak juara pertama" ujar Nadya.
"Iya de, makasih. Teteh seneeeeeennnnggg banget. Apalagi Nadya sembuh sekarang, lain kali kalau sakit bilang teteh ya" jawab Nindi.
"Iya teh sipp deh !" Timbal Nadya dengan penuh keceriaan.
Hujan, akan tetap menyimpan banyak kenangan untuk Nindi, semoga saja tak lagi ada kenangan pilu saat hujan - hujan lainnya. Terimakasih mama, ayah, Nadya dan terimakasih ya Allah, kau berikan sejuta hal yang menakjubkan untukku dibalik hujan.
"Maaf Pak ! Kami tidak bisa menyelamatkan istri anda." Kata-kata dokter kala itu sangat menggelegar dalam hati Pak Fajri.
"Anak saya, bagaimana dengan keadaan anak saya dokter?" lanjut Pak Fajri setelah terdiam sesaat.
"Alhamdulillah anak bapak perempuan pak, cantik sekali." jawab dokter dengan tenang.
Rasa yang tak karuan dirasakan pula oleh Nindi, anak pertama Pak Fajri yang harus kehilangan ibu yang sangat dicintainya, namun ia pun bahagia atas adik barunya.
"De, teteh janji teteh mau jadi kakak yang baik buat ade." begitu ucap Nindi di hadapan bayi mungil yang diberi nama Nadya.
Hari terus berganti, tak terasa Nadya tumbuh menjadi gadis mungil yang sangat cantik dan ceria layaknya gadis cilik lainnya. Setiap pagi, Nindi dan Nadya pergi sekolah bersama, Nindi terlebih dahulu mengantarkan adiknya yang bersekolah di SD Harapan baru pergi ke sekolahnya d SMA Bina. Nadya sangat beruntung memiliki kakak seperti Nindi, yang penuh kasih sayang dan lembut. Nindi dengan sabar mengantar jemput Nadya apabila Nadya ada les menari balet.
Suatu hari "Teteh, Nadya punya mama gak sih? temen-temen yang lain lesnya bareng mama, tapi Nadya kok sama teteh?"
Mendengar hal tersebut Nindi bingung harus menjawab apa, dengan terbata-bata ia pun menjawab
"Mama Nadya udah ada di sisi Allah sayang, jadi Nadya gak bisa liat mama."
"Mama gak sayang Nadya ya teh? Mama gak mau ketemu Nadya?"
"Eh,eh, bukan gitu de, mama itu sayang kok sama Nadya, nanti kalau Nadya udah besar Nadya akan tau mama kemana. Gak boleh bilang gitu lagi ya adenya teteh yang cantik."
Nadya pun akhirnya mengiyakan perkataan kakaknya, gadis cilik yang satu ini benar benar menyayangi kakaknya karena ibunya telah tiada dan ayahnya pun sibuk bekerja dia hanya memiliki kakaknya untuk berbagi cerita.
Suatu hari saat Nadya akan pergi les, hujan turun cukup deras, entah mengapa Nadya suka sekali hujan karena menurutnya hujan bisa menyembunyikan airmatanya bila ia menangis, hujan juga bisa menghilangkan rasa kesepiannya. Namun setiap kali hujan turun, Nindi selalu menjadi sangat khawatir pada Nadya, sampai-sampai tak mengizinkan adiknya itu lepas dari pengelihatannya.
"Teteh takut hujan?" Bibir mungil Nadya dengan polosnya menanyakan hal itu.
"Eng..eng..enggak kok ! Ada apa?" jawab Nindi
"Habis tiap kali ujan teteh jadi aneh." timbal Nadya
"Udah, jangan banyak tanya, sana masuk kamar jangan ujan-ujanan!" sambil menarik tangan Nadya ke arah kamar.
Di kamar, Nadya memikirkan keanehan sikap kakaknya, ia menulis dalam buku hariannya
Buku harianku, teteh ko aneh ya, tiap ujan takut , tiap ujan marah, kenapa ya? Nadya bingung nih, Nadya gak mau teteh sedih. Aneh ! :(
Beberapa hari kemudian, Pak Fajri pulang dari luar kota, Nadya dan Nindi sangat senang menyambutnya. Tujuan Pak Fajri pulang adalah untuk menyaksikan Nadya yang akan tampil di kontes balet se-Indonesia. Ia sadar, bahwa ia sudah terlalu sibuk hingga tak punya banyak waktu untuk menamani anaknya itu.
Sebulan sebelum kontes, Nadya sudah sangat sibuk berlatih balet. Nindi agak khawatir akan kesehatan Nadya, karena bila sudah latihan, adiknya itu tak ingin diganggu, bahkan hanya untuk makan sekalipun.
"Teteh, bulan depan kan teteh ulang tahun, teteh mau hadiah apa dari Nadya?"
Nindi terdiam, dia terharu adik sekecil ini sangat perhatian padanya, dia lebih dewasa untuk anak seumurannya kali ini.
"Teteh mau, Nadya jadi adenya teteh yang paliiiiiinnnnggg hebat di kontes nanti. Teteh mau foto bareng Nadya waktu Nadya bawa piala besar juara pertama kontes itu, Nadya bisa?"
"Tentu tetehku, nanti Nadya kasih pialanya buat teteh yaa ! Nadya janji Nadya mau jadi juara buat teteh sama ayah." jawab Nadya penuh semangat.
Pak Fajri mendengar percakapan antara anak-anaknya tersebut, beliau bangga memiliki putri-putri yang hebat seperti mereka, andai saja istrinya masih ada, pasti setiap hari ia akan tersenyum bahagia melihat kedua putrianya itu pikirnya.
Satu minggu sebelum kontes, Nadya jatuh sakit, ia dirawat di Rumah Sakit Cahaya. Nindi dan Pak Fajri sangat khawatir, tak ingin merasakan sakitnya kehilangan untuk kedua kalinya.
"Nadya, bangun cantik, ini teteh !" Ucap Nindi sambil menatap wajah mungil adiknya yang biasanya dihiasi dengan senyum ceria, kini menjadi pucat dan tak berdaya.
"Ini ayah sayang, tuh teteh sedih liat Nadya tidur terus kaya gini, cepet bangun ya anak ayah!" Lanjut Pak Fajri sambil mengusap kepala putrinya.
Kekhawatiran tersebut bertambah, saat dokter mengatakan bahwa Nadya ternyata kanker otak. Nindi, dalam doanya yang tulus tak henti berharap agar adiknya diberi kesembuhan. Tak sengaja ia temukan buku harian adiknya.
Rabu
Buku harian, Nadya pusing, kenapa ya kepala Nadya rasanya sakiiittt banget?
Kamis
Sebentar lagi teh Nindi ulang taun, Nadya mau ngasih kado yang spesial buat teteh, sakitnya udah ya Allah
Jum'at
Kalau emang Nadya harus sakit, gak apa-apa kok tapi nanti ya, Nadya mau kasih hadiah dulu buat teteh
Nindi menangis sejadi-jadinya membaca buku harian adiknya, ia sangat merasa bersalah, mengapa ia tak sadar bahwa belakangan ini adiknya itu menahan rasa sakit sendirian. Beberapa menit setelah itu, Nadya mulai siuman, ia langsung meminta ayah dan tetehnya untuk membawanya pulang, ia dengan yakinnya mengatakan bahwa ia akan menang pada kontes menari balet nanti. Setelah meminta izin pada dokter, akhirnya hari itu juga Nadya di bawa pulang ke rumah.
Keesokkan harinya Nadya langsung berlati balet lagi, tak terlihat rasa sakit sedikitpun dari wajahnya, Nindi sering menahan tangis dihadapan adiknya itu. Ia tidak mau adiknya jatuh sakit lagi dan pergi meninggalkannya.
Namun, di hati kecilnya, ia tau bahwa adiknya itu gadis yang hebat, gadis cilik yang sangat kuat.
Hari dimana kontes itu berlangsung akhirnta tiba, Nadya sangat semangat. Dengan kostum warna pink dan rambut dikepang, ia terlihat sangan cantik
"Teteh, Nadya deg-degan nih, haduh yang nontonnya banyak banget, peserta yang lain juga cantik-cantik banget teteh, bajunya bagus-bagus lagi."
"Hahaha, adik teteh lucu deh kalau lagi tegang. Udah, Nadya pasti bisa lebih bagus dari mereka, teteh yakin itu! Semangat ya de !" jawab Nindi dengan sedikit menggoda.
"Iya, ayah juga yakin Nadya bisa, semangat ya anak ayah!" lanjut Pak Fajri.
Tiba giliran Nadya untuk tampil, dan ternyata benar, ia bisa tampil dengan sangat menakjubkan. Nindi, Pak Fajri langsung memberikan tepuk tangan saat Nadya selesai menari. Juri pun ikut memberikan tepuk tangan.
Saat hasil kontes akan diumumkan, Nadya mulai merasa kepalanya sakit, ia hanya diam. Tak berkata apapun, Nindi menyadarinya, ia tak ingin Nadya panik, ia hanya memegang tangan Nadya dan berdoa dalam hatinya. Pengumumanpun telah tiba, Nadya mendapatkan juara kedua dan juara faforit, Nadya senang, dengan tersenyum ia naik ke panggung untuk mengambil piala. Nindi dan Pak Fajri sangat bangga padanya.
Seturunnya dari panggung, Nadya jatuh pinsan, ia langsung dibawa ke rumah sakit lagi. Nindi benar-benar cemas kali ini, ia tau bahwa adiknya telah mengeluarkan seluruh tenaganya kali ini. Namun, tak henti ia berdoa untuk kekuatan adiknya.
Beberapa hari dirawat dirumah sakit, keadaanNadya pun membaik. Ia mulai siuman dan tersenyum ceria lagi. Kekhawatiran Nindi dan Pak Fajri pun mulai reda.
"Teteh, ayah, Nadya di rumah sakit lagi? Gimana pialanya?"
"Iya Nak, kamu pinsan lagi waktu udah ngambil piala" jawab ayahnya.
"Nadya, jangan tinggalin teteh ya, teteh gak mau Nadya jauh sama teteh, cepet sembuh ya sayang" Ucap Nindi sambil menangis.
"Kok teteh nangis, tenang aja teh, Nadya janji gak akan ninggalin teteh kok ! Teteh jangan nangis lagi ya."
Tepat di hari ulang tahun Nindi, hujan turun dengan deras, namun kali ini, hujan tak lagi membawa duka yang mendalam, justru membawa suka cita. Kehadiran teman-teman dan saudara di syukuran ulang tahunnya membuat Nindi sangat bahagia, ditambah lagi dengan kesembuhan Nadya yang menjadi kado paling spesial untuk Nindi.
"Alhamdulillah, Nadya bisa ngasih kado ini buat teteh, maaf ya gak juara pertama" ujar Nadya.
"Iya de, makasih. Teteh seneeeeeennnnggg banget. Apalagi Nadya sembuh sekarang, lain kali kalau sakit bilang teteh ya" jawab Nindi.
"Iya teh sipp deh !" Timbal Nadya dengan penuh keceriaan.
Hujan, akan tetap menyimpan banyak kenangan untuk Nindi, semoga saja tak lagi ada kenangan pilu saat hujan - hujan lainnya. Terimakasih mama, ayah, Nadya dan terimakasih ya Allah, kau berikan sejuta hal yang menakjubkan untukku dibalik hujan.
Bersama :)
Berawal saat kita berkumpul dalam satu atap yang indah, besar, menjanjikan akan masa depan yang cerah. Terlalu panjang bila ku urai tentang persahabatan yang telah ku jalin . Awalnya mereka dan aku memang tak sama. Tahu, namun tak saling sapa . Kenal , namun tak saling terbuka :)
Seiring dengan berlalunya waktu, Aku, dia, mereka, hingga akhirnya menjadi KAMI , bisa berada dalam satu ruangan yang lebih sempit, merancang satu konsep hari remaja yang lebih berwarna 'bersama' . Tak sedikit air mata kekesalan yang menetes, dari mulai kesalahpahaman, keegoisan dan banyak hal lain yang kini menjadi bahab tertawaan . Namun kekesalan tersebut masih kalah jika dibandingkan tawa yang menggema, canda yang tak tertahan dan bahagia yang seakan tak berujung .
Mungkin ini yang orang - orang sering katakan 'sahabat' . Tersenyum saat satu dari kami bahagia, menangis saat satu dari kami terluka, bicara saat satu dari kami lakukan kesalahan, mendukung saat satu dari kami membuat suatu karya . Lebih dari sekedar menghabiskan waktu dan uang jajan bersama , namun Aku temukan makna dari sebuah perubahan , dari sebuah persahabatan . Toh, hubungan yang positif takkan pernah membawa ke arah yang negatif :)
Jarum jam tak berhenti , akhirnya kami sampai pada pintu gerbang perpisahan, cemas sempat merajai . Akankah persahabatan ini bertahan ? Akankah semua ini tetap indah ? Jawabannya ada pada saat kami berpisah. Memang tak bisa bertemu setiap saat , namun tetap mencoba tuk selalu ada di saat ada yg membutuhkan . Ya Allah , terimakasih kau telah berikan persahabatan yang sangat sangat indah :)
SahabatDiMasaSMP :)
Seiring dengan berlalunya waktu, Aku, dia, mereka, hingga akhirnya menjadi KAMI , bisa berada dalam satu ruangan yang lebih sempit, merancang satu konsep hari remaja yang lebih berwarna 'bersama' . Tak sedikit air mata kekesalan yang menetes, dari mulai kesalahpahaman, keegoisan dan banyak hal lain yang kini menjadi bahab tertawaan . Namun kekesalan tersebut masih kalah jika dibandingkan tawa yang menggema, canda yang tak tertahan dan bahagia yang seakan tak berujung .
Mungkin ini yang orang - orang sering katakan 'sahabat' . Tersenyum saat satu dari kami bahagia, menangis saat satu dari kami terluka, bicara saat satu dari kami lakukan kesalahan, mendukung saat satu dari kami membuat suatu karya . Lebih dari sekedar menghabiskan waktu dan uang jajan bersama , namun Aku temukan makna dari sebuah perubahan , dari sebuah persahabatan . Toh, hubungan yang positif takkan pernah membawa ke arah yang negatif :)
Jarum jam tak berhenti , akhirnya kami sampai pada pintu gerbang perpisahan, cemas sempat merajai . Akankah persahabatan ini bertahan ? Akankah semua ini tetap indah ? Jawabannya ada pada saat kami berpisah. Memang tak bisa bertemu setiap saat , namun tetap mencoba tuk selalu ada di saat ada yg membutuhkan . Ya Allah , terimakasih kau telah berikan persahabatan yang sangat sangat indah :)
SahabatDiMasaSMP :)
Sabtu, 12 Maret 2011
hari ini
Hari ini ,
Semua berawal dengan bacaan basmallah
berharap terpenuhi dengan ukiran pena indah
bukan kelamnya tinta hitam :)
Semua berawal dengan bacaan basmallah
berharap terpenuhi dengan ukiran pena indah
bukan kelamnya tinta hitam :)
Langganan:
Postingan (Atom)