Hari itu, hujan turun dengan derasnya, mengiringi kepergian seorang ibu yang mengorbankan jiwanya untuk keselamatan jiwa baru yang ia sayangi. Dua rasa sekaligus dirasakan oleh keluarga Fajri. Keluarga yang sederhana, rukun, tentram dan bahagia.
"Maaf Pak ! Kami tidak bisa menyelamatkan istri anda." Kata-kata dokter kala itu sangat menggelegar dalam hati Pak Fajri.
"Anak saya, bagaimana dengan keadaan anak saya dokter?" lanjut Pak Fajri setelah terdiam sesaat.
"Alhamdulillah anak bapak perempuan pak, cantik sekali." jawab dokter dengan tenang.
Rasa yang tak karuan dirasakan pula oleh Nindi, anak pertama Pak Fajri yang harus kehilangan ibu yang sangat dicintainya, namun ia pun bahagia atas adik barunya.
"De, teteh janji teteh mau jadi kakak yang baik buat ade." begitu ucap Nindi di hadapan bayi mungil yang diberi nama Nadya.
Hari terus berganti, tak terasa Nadya tumbuh menjadi gadis mungil yang sangat cantik dan ceria layaknya gadis cilik lainnya. Setiap pagi, Nindi dan Nadya pergi sekolah bersama, Nindi terlebih dahulu mengantarkan adiknya yang bersekolah di SD Harapan baru pergi ke sekolahnya d SMA Bina. Nadya sangat beruntung memiliki kakak seperti Nindi, yang penuh kasih sayang dan lembut. Nindi dengan sabar mengantar jemput Nadya apabila Nadya ada les menari balet.
Suatu hari "Teteh, Nadya punya mama gak sih? temen-temen yang lain lesnya bareng mama, tapi Nadya kok sama teteh?"
Mendengar hal tersebut Nindi bingung harus menjawab apa, dengan terbata-bata ia pun menjawab
"Mama Nadya udah ada di sisi Allah sayang, jadi Nadya gak bisa liat mama."
"Mama gak sayang Nadya ya teh? Mama gak mau ketemu Nadya?"
"Eh,eh, bukan gitu de, mama itu sayang kok sama Nadya, nanti kalau Nadya udah besar Nadya akan tau mama kemana. Gak boleh bilang gitu lagi ya adenya teteh yang cantik."
Nadya pun akhirnya mengiyakan perkataan kakaknya, gadis cilik yang satu ini benar benar menyayangi kakaknya karena ibunya telah tiada dan ayahnya pun sibuk bekerja dia hanya memiliki kakaknya untuk berbagi cerita.
Suatu hari saat Nadya akan pergi les, hujan turun cukup deras, entah mengapa Nadya suka sekali hujan karena menurutnya hujan bisa menyembunyikan airmatanya bila ia menangis, hujan juga bisa menghilangkan rasa kesepiannya. Namun setiap kali hujan turun, Nindi selalu menjadi sangat khawatir pada Nadya, sampai-sampai tak mengizinkan adiknya itu lepas dari pengelihatannya.
"Teteh takut hujan?" Bibir mungil Nadya dengan polosnya menanyakan hal itu.
"Eng..eng..enggak kok ! Ada apa?" jawab Nindi
"Habis tiap kali ujan teteh jadi aneh." timbal Nadya
"Udah, jangan banyak tanya, sana masuk kamar jangan ujan-ujanan!" sambil menarik tangan Nadya ke arah kamar.
Di kamar, Nadya memikirkan keanehan sikap kakaknya, ia menulis dalam buku hariannya
Buku harianku, teteh ko aneh ya, tiap ujan takut , tiap ujan marah, kenapa ya? Nadya bingung nih, Nadya gak mau teteh sedih. Aneh ! :(
Beberapa hari kemudian, Pak Fajri pulang dari luar kota, Nadya dan Nindi sangat senang menyambutnya. Tujuan Pak Fajri pulang adalah untuk menyaksikan Nadya yang akan tampil di kontes balet se-Indonesia. Ia sadar, bahwa ia sudah terlalu sibuk hingga tak punya banyak waktu untuk menamani anaknya itu.
Sebulan sebelum kontes, Nadya sudah sangat sibuk berlatih balet. Nindi agak khawatir akan kesehatan Nadya, karena bila sudah latihan, adiknya itu tak ingin diganggu, bahkan hanya untuk makan sekalipun.
"Teteh, bulan depan kan teteh ulang tahun, teteh mau hadiah apa dari Nadya?"
Nindi terdiam, dia terharu adik sekecil ini sangat perhatian padanya, dia lebih dewasa untuk anak seumurannya kali ini.
"Teteh mau, Nadya jadi adenya teteh yang paliiiiiinnnnggg hebat di kontes nanti. Teteh mau foto bareng Nadya waktu Nadya bawa piala besar juara pertama kontes itu, Nadya bisa?"
"Tentu tetehku, nanti Nadya kasih pialanya buat teteh yaa ! Nadya janji Nadya mau jadi juara buat teteh sama ayah." jawab Nadya penuh semangat.
Pak Fajri mendengar percakapan antara anak-anaknya tersebut, beliau bangga memiliki putri-putri yang hebat seperti mereka, andai saja istrinya masih ada, pasti setiap hari ia akan tersenyum bahagia melihat kedua putrianya itu pikirnya.
Satu minggu sebelum kontes, Nadya jatuh sakit, ia dirawat di Rumah Sakit Cahaya. Nindi dan Pak Fajri sangat khawatir, tak ingin merasakan sakitnya kehilangan untuk kedua kalinya.
"Nadya, bangun cantik, ini teteh !" Ucap Nindi sambil menatap wajah mungil adiknya yang biasanya dihiasi dengan senyum ceria, kini menjadi pucat dan tak berdaya.
"Ini ayah sayang, tuh teteh sedih liat Nadya tidur terus kaya gini, cepet bangun ya anak ayah!" Lanjut Pak Fajri sambil mengusap kepala putrinya.
Kekhawatiran tersebut bertambah, saat dokter mengatakan bahwa Nadya ternyata kanker otak. Nindi, dalam doanya yang tulus tak henti berharap agar adiknya diberi kesembuhan. Tak sengaja ia temukan buku harian adiknya.
Rabu
Buku harian, Nadya pusing, kenapa ya kepala Nadya rasanya sakiiittt banget?
Kamis
Sebentar lagi teh Nindi ulang taun, Nadya mau ngasih kado yang spesial buat teteh, sakitnya udah ya Allah
Jum'at
Kalau emang Nadya harus sakit, gak apa-apa kok tapi nanti ya, Nadya mau kasih hadiah dulu buat teteh
Nindi menangis sejadi-jadinya membaca buku harian adiknya, ia sangat merasa bersalah, mengapa ia tak sadar bahwa belakangan ini adiknya itu menahan rasa sakit sendirian. Beberapa menit setelah itu, Nadya mulai siuman, ia langsung meminta ayah dan tetehnya untuk membawanya pulang, ia dengan yakinnya mengatakan bahwa ia akan menang pada kontes menari balet nanti. Setelah meminta izin pada dokter, akhirnya hari itu juga Nadya di bawa pulang ke rumah.
Keesokkan harinya Nadya langsung berlati balet lagi, tak terlihat rasa sakit sedikitpun dari wajahnya, Nindi sering menahan tangis dihadapan adiknya itu. Ia tidak mau adiknya jatuh sakit lagi dan pergi meninggalkannya.
Namun, di hati kecilnya, ia tau bahwa adiknya itu gadis yang hebat, gadis cilik yang sangat kuat.
Hari dimana kontes itu berlangsung akhirnta tiba, Nadya sangat semangat. Dengan kostum warna pink dan rambut dikepang, ia terlihat sangan cantik
"Teteh, Nadya deg-degan nih, haduh yang nontonnya banyak banget, peserta yang lain juga cantik-cantik banget teteh, bajunya bagus-bagus lagi."
"Hahaha, adik teteh lucu deh kalau lagi tegang. Udah, Nadya pasti bisa lebih bagus dari mereka, teteh yakin itu! Semangat ya de !" jawab Nindi dengan sedikit menggoda.
"Iya, ayah juga yakin Nadya bisa, semangat ya anak ayah!" lanjut Pak Fajri.
Tiba giliran Nadya untuk tampil, dan ternyata benar, ia bisa tampil dengan sangat menakjubkan. Nindi, Pak Fajri langsung memberikan tepuk tangan saat Nadya selesai menari. Juri pun ikut memberikan tepuk tangan.
Saat hasil kontes akan diumumkan, Nadya mulai merasa kepalanya sakit, ia hanya diam. Tak berkata apapun, Nindi menyadarinya, ia tak ingin Nadya panik, ia hanya memegang tangan Nadya dan berdoa dalam hatinya. Pengumumanpun telah tiba, Nadya mendapatkan juara kedua dan juara faforit, Nadya senang, dengan tersenyum ia naik ke panggung untuk mengambil piala. Nindi dan Pak Fajri sangat bangga padanya.
Seturunnya dari panggung, Nadya jatuh pinsan, ia langsung dibawa ke rumah sakit lagi. Nindi benar-benar cemas kali ini, ia tau bahwa adiknya telah mengeluarkan seluruh tenaganya kali ini. Namun, tak henti ia berdoa untuk kekuatan adiknya.
Beberapa hari dirawat dirumah sakit, keadaanNadya pun membaik. Ia mulai siuman dan tersenyum ceria lagi. Kekhawatiran Nindi dan Pak Fajri pun mulai reda.
"Teteh, ayah, Nadya di rumah sakit lagi? Gimana pialanya?"
"Iya Nak, kamu pinsan lagi waktu udah ngambil piala" jawab ayahnya.
"Nadya, jangan tinggalin teteh ya, teteh gak mau Nadya jauh sama teteh, cepet sembuh ya sayang" Ucap Nindi sambil menangis.
"Kok teteh nangis, tenang aja teh, Nadya janji gak akan ninggalin teteh kok ! Teteh jangan nangis lagi ya."
Tepat di hari ulang tahun Nindi, hujan turun dengan deras, namun kali ini, hujan tak lagi membawa duka yang mendalam, justru membawa suka cita. Kehadiran teman-teman dan saudara di syukuran ulang tahunnya membuat Nindi sangat bahagia, ditambah lagi dengan kesembuhan Nadya yang menjadi kado paling spesial untuk Nindi.
"Alhamdulillah, Nadya bisa ngasih kado ini buat teteh, maaf ya gak juara pertama" ujar Nadya.
"Iya de, makasih. Teteh seneeeeeennnnggg banget. Apalagi Nadya sembuh sekarang, lain kali kalau sakit bilang teteh ya" jawab Nindi.
"Iya teh sipp deh !" Timbal Nadya dengan penuh keceriaan.
Hujan, akan tetap menyimpan banyak kenangan untuk Nindi, semoga saja tak lagi ada kenangan pilu saat hujan - hujan lainnya. Terimakasih mama, ayah, Nadya dan terimakasih ya Allah, kau berikan sejuta hal yang menakjubkan untukku dibalik hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar